Indonesia Butuh Revolusi Damai

On 29 December 2011, in Politik, Hukum dan HAM, by Rumah Aspirasi

PURWOKERTO (KRjogja.com) – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) MPR-RI dari Jateng, Poppy Dharsono dalam kunjungannya ke Purwokerto, Kamis (29/12), mengatakan sudah lebih dari 10 tahun pemerintahan ‘reformasi’ berjalan, tetapi kebobrokan yang terjadi tidak berkurang. Maka, kata Poppy, untuk terselenggaranya pemerintahan yang benar-benar bisa ‘menyenangkan’ rakyat secara riil sesuai pembukaan UUD 45, diperlukan adanya sikap seluruh [...]

Poppy Dharsono: Indonesia Butuh Revolusi Damai

Poppy Dharsono: Indonesia Butuh Revolusi Damai

PURWOKERTO (KRjogja.com) - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) MPR-RI dari Jateng, Poppy Dharsono dalam kunjungannya ke Purwokerto, Kamis (29/12), mengatakan sudah lebih dari 10 tahun pemerintahan ‘reformasi’ berjalan, tetapi kebobrokan yang terjadi tidak berkurang. Maka, kata Poppy, untuk terselenggaranya pemerintahan yang benar-benar bisa ‘menyenangkan’ rakyat secara riil sesuai pembukaan UUD 45, diperlukan adanya sikap seluruh pejabat, pemimpin dan rakyat untuk saling merevolusi diri secara damai.

“Yang diperlukan segera adalah berubahnya sikap seluruh warga Indonesia tanpa kecuali untuk saling merubah diri demi kebangunan Indonesia Raya. Ini revolusi yang diperlukan, tetapi dengan cara damai di hati masing-masing” tandas mantan foto model era th 1980-an tersebut di Gedung Harmoni Purwokerto, sebagai pembicara dalam dialog interaktif.

Sebagai salah satu contoh ‘parahnya’ pola kerja pemerintahan, papar Poppy, adalah kenyataan sebagian besar pejabat dimana pun berada menomorsatukan uang untuk sebuah kelancaran bekerja masing-masing. “Tarohlah sebagai contoh ketika orang kena urusan hukum. Baik korban apalagi pelaku kejahatan, selain harus berupaya membela nasib diri masing-masing, juga harus mempersiapkan diri dengan tersedianya modal/uang yang tidak sedikit jumlahnya untuk setiap menghadapi tahapan-tahapan dari proses hukum yang menimpanya. Ini kenyataan ! Padahal ini keburukan ! Untuk menghilangkan budaya ‘wani piro’ tersebut diperlukan adanya revolusi sikap kita, semuanya !” tandas Poppy Dharsono.

Ketika berkunjung ke Fisip Unsoed Purwokerto sehari sebelumnya, Poppy Dharsono mengakui, sebagai anggota DPD, meski sebenarnya mewakili suara rakyat daerahnya (Jateng), tetapi posisi DPD di parlemen tidak bisa masuk ranah kewenangan legislasi. “Posisi DPD di parlemen hanya sebatas ikut mengawasi, kemudian memberi pertimbangan (nominasi) atau usulan saja. Tetapi keputusan akhir ada pada DPR. Soal kewenangan legislasi dan budgeting ada di DPR” katanya.

Kesulitan lainnya, kata Poppy, terkait banyaknya pandangan dari 132 anggota DPD yang ada. “Dengan jumlah seperti itu, dan mewakili daerahnya masing-masing, tentu jadi amat repot ketika harus menuangkan 1 kekompakan pandangan/pemikiran, karena masing-masing daerah memang punya persoalan masing-masing yang saling berbeda” katanya. Dengan begitu, ujar Poppy Dharsono, maka melalui amandamen UUD 45, nantinya keberadaan DPD harus bisa diposisikan sama sejajar dengan anggota DPR. (Ero) Sumber: KR Jogja

Anggota DPD Jawa Tengah Ditagih Bangun Ngarso Bawono

LAWEYAN—Warga Laweyan minta anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Tengah, Poppy Darsono, secepatnya merealisasikan rencana pendirian pasar malam Ngarso Bawono. Rencananya pasar malam itu akan didirikan di sepanjang Jalan Kabangan II pada 2012 mendatang. Lurah Bumi, Kecamatan Laweyan, Karyono, mengatakan, keberadaan pasar malam Ngarso Bawono nantinya bisa menjadi alat untuk memacu laju perekonomian warga di [...]

Pasar Malam Ngarso BawonoLAWEYAN—Warga Laweyan minta anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Tengah, Poppy Darsono, secepatnya merealisasikan rencana pendirian pasar malam Ngarso Bawono. Rencananya pasar malam itu akan didirikan di sepanjang Jalan Kabangan II pada 2012 mendatang. Lurah Bumi, Kecamatan Laweyan, Karyono, mengatakan, keberadaan pasar malam Ngarso Bawono nantinya bisa menjadi alat untuk memacu laju perekonomian warga di lokasi tersebut.

Terlebih lokasi untuk pasar malam sangat strategis. ”Kami hingga saat ini, masih terkendala minimnya jumlah tenda sebagai prasarana pendukung pendirian pasar malam tersebut,” katanya, dalam temu warga di Rumah Aspirasi Poppy Darsono, Rabu (21/12).
”Untuk itu, kami meminta kepada Poppy Darsono, Anggota DPD Jawa Tengah mengalokasikan dana agar pendirian pasar malam Ngarso Bawono bisa secepatnya direalisasikan,” imbuh Karyono. Menanggapi permintaan warga, Poppy berjanji, ke depan akan membantu pendanaan agar dapat digunakan membeli tenda sehingga pendirian pasar malam Ngarso Bawono bisa terealisasi. ”Kami akan membantu membelikan tenda baru beberapa puluh unit supaya dimanfaatkan untuk berjualan warga di sepanjang Jalan Kabangan II,” kata Poppy.

Fariz Fardianto
sumber:Harian Joglo Semar

Menjaring Aspirasi warga Laweyan

SOLO–Ketua DPD Jateng, Poppy Dharsono, kembali  menyerap aspirasi masyarakat Solo dengan menggelar dialog terbuka bertempat di Rumah Aspirasi Poppy Dharsono, Laweyan, Rabu (21/12) malam. Pada kesempatan tersebut hadir puluhan warga Laweyan termasuk ibu-ibu PKK dari kelurahan Bumi, Sondakan, Premulung dan sekitarnya. Aspirasi yang disampaikan lebih banyak terkait upaya pemberdayaan masyarakat. Lurah Bumi, Karsono, menyampaikan masyarakat [...]

Poppy Dharsono

Poppy Dharsono

SOLO–Ketua DPD Jateng, Poppy Dharsono, kembali  menyerap aspirasi masyarakat Solo dengan menggelar dialog terbuka bertempat di Rumah Aspirasi Poppy Dharsono, Laweyan, Rabu (21/12) malam.

Pada kesempatan tersebut hadir puluhan warga Laweyan termasuk ibu-ibu PKK dari kelurahan Bumi, Sondakan, Premulung dan sekitarnya. Aspirasi yang disampaikan lebih banyak terkait upaya pemberdayaan masyarakat.

Lurah Bumi, Karsono, menyampaikan masyarakat Laweyan ingin merealisasikan Ngarso Bhawono yang merupakan tempat unjuk potensi yang dimiliki masyarakat Laweyan. “Ngarso Bhawono itu seperti pasar malam yang nantinya akan dibuka di sekitar Jl Kabangan. Untuk merealisasikan itu kami butuh dukungan dari bu Poppy,” kata Karsono.

Tidak hanya itu, warga khususnya ibu-ibu PKK meminta solusi atas permasalahan kenaikan harga pangan saat ini. Poppy berharap masyarakat bisa memanfaatkan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan.

(haw)
sumber: Solopos

Politisi Mesti Mapan Ekonomi

On 23 November 2011, in Otonomi Daerah, Pendidikan, Politik, Hukum dan HAM, by Rumah Aspirasi

SEORANG politisi mestinya mapan secara ekonomi terlebih dulu, dan memiliki komitmen untuk memperjuangkan kesejahteraaan rakyat. Jika secara pribadi belum mapan, dan selalu berpikir kepentingan pribadi, maka selamanya perpolitikan Indonesia akan diwarnai kejahatan korupsi. Maka, negara yang didirikan para pahlawan ini akan terus rusak dan semakin terperosok ke kehancuran. Hal itu disampaikan anggota DPD RI Poppy [...]

DPD Jateng Poppy Dharsono Politisi Mesti Mapan Ekonomi

DPD Jateng Poppy Dharsono Politisi Mesti Mapan Ekonomi

SEORANG politisi mestinya mapan secara ekonomi terlebih dulu, dan memiliki komitmen untuk memperjuangkan kesejahteraaan rakyat.

Jika secara pribadi belum mapan, dan selalu berpikir kepentingan pribadi, maka selamanya perpolitikan Indonesia akan diwarnai kejahatan korupsi. Maka, negara yang didirikan para pahlawan ini akan terus rusak dan semakin terperosok ke kehancuran.

Hal itu disampaikan anggota DPD RI Poppy Dharsono saat memberikan kuliah dalam rangka penyerapan aspirasi di ruang kuliah Magister Ilmu Politik (MIP) Universitas Diponegoro Semarang, kemarin.

“Negara kita semakin rusak-rusakan. Para politisi isinya orang-orang korup. Banyak di antara mereka tidak bermutu, jadi kita tak bisa berharap kebaikannya,” jelas senator yang mewakili Jawa Tengah ini.

Diapresiasi Aktif
Dosen MIP Undip Dr Budi Setiyono mengapresiasi keaktifan Poppy Dharsono menjalankan tugasnya selaku senator. Menurutnya, seorang wakil daerah yang dipilih langsung oleh rakyat mestinya bertindak demikian. Yaitu aktif menemui konstituennya dan memperjuangkan kepentingan Jawa Tengah di tingkat nasional.

“Anggota DPD mestinya seperti Bu Poppy itu. Sayang, dari empat anggota DPD asal Jateng, sepertinya kita tidak tahu siapa selain Bu Poppy,” tuturnya.

Dia bahkan menilai DPD perlu dipertanyakan manfaatnya bagi masyarakat, karena para anggotanya tidak pernah muncul di tengah masyarakat, setidaknya di Jawa Tengah.

Menurutnya, masyarakat Jateng dan Indonesia pada umumnya berhak mempertanyakan tanggungjawab politik empat anggota DPD yang mewakili Jateng. Di mana saja mereka selama ini, mengapa tidak pernah kelihatan kiprahnya. Padahal sudah menerima gaji sangat besar dari negara.

“Anggota DPD sudah digaji sangat besar. Kalau tidak berbuat apa-apa, kita patut mempertanyakan manfaatnya apa,” gugatnya saat diwawancarai Harsem di ruang dosen MIP.

Budi juga setuju pendapat Poppy Dharsono yang menyebutkan kebanyakan anggota DPD adalah orang yang mencari pekerjaan atau mencari penghasilan. (moi/dnr) Sumber: Blog Harian Semarang

Terjun Politik Panggilan Hati

On 23 November 2011, in Politik, Hukum dan HAM, by Rumah Aspirasi

Jakarta, Teraspolitik – Setelah mengenyam asam-garam dunia desain dan fashion yang telah membesarkan namanya, saat ini Poppy Dharsono mulai memasuiki dunia politik. Perempuan ayu usia baya yang awet muda ini tidak tanggung-tanggung memasuki panggung politik. Salah satu pemrakarsa Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini sebelumnya ikut pencalonan pilkada kepala daerah Jawa Tengah melalui partai, [...]

Poppy Dharsono : Terjun Politik Panggilan Hati

Poppy Dharsono : Terjun Politik Panggilan Hati

Jakarta, Teraspolitik – Setelah mengenyam asam-garam dunia desain dan fashion yang telah membesarkan namanya, saat ini Poppy Dharsono mulai memasuiki dunia politik. Perempuan ayu usia baya yang awet muda ini tidak tanggung-tanggung memasuki panggung politik.

Salah satu pemrakarsa Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini sebelumnya ikut pencalonan pilkada kepala daerah Jawa Tengah melalui partai, meski akhirnya gagal di tingkat Komisi Pemilihan Umum. Tahun depan Poppy berencana mengikuti hajatan politik mencalonkan diri sebagai Dewan Perwakilan Daerah Jawa Tengah. Apa yang melatar belakangi Poppy terjun ke dunia politik?

Mungkin lebih karena panggilan hati. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang serius untuk membesarkan bangsanya. Memang political will dari pemerintah sudah ada, hanya saja masih ada hambatan. Soal skill dan sumber daya manusia. Di negara kita ini banyak politisi, tapi jarang yang benar-benar berbuat konkret untuk masyarakat. Semua mengatasnamakan rakyat, tapi ujung-ujungnya lebih mementingkan kepentingan pribadi.

Saya berniat membantu masyarakat lemah. Selain dengan perbuatan nyata, ada kebijakan yang lebih memihak kehidupan mereka. Khususnya pemberdayaan orang-orang lemah, membantu orang-orang yang secara ekonomi dan sosial belum terbantu. Misalkan saja usaha industri kecil. Saat ini belum banyak yang mengelola.

Saya ingin memberikan sumbangsih bagi bangsa ini. Membantu secara langsung. Sebenarnya apa yang saya lakukan saat ini adalah melanjutkan apa yang sudah saya lakukan kemarin-kemarin. Mendirikan usaha kecil untuk masyarakat yang memiliki skill dan (merupakan) sumber daya masyarakat yang bagus tapi, tidak ada yang mewadahinya. Mengembangkan usaha-usaha kecil. Kebetulan saya kan terlibat di Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia yang sudah melakukan pendampingan terhadap usaha-usaha industri kecil. Ada 150 orang anggota lebih yang melanjutkan program ini. Dan sudah berjalan dengan baik.

Untuk pencalonan pilkada tahun lalu saya habis banyak. Cost politic memang tidak sedikit. Kurang lebih saya habis satu miliar. Ini untuk cost politic lho, bukan money politic. Tidak ada pelican-pelicin. Yang begitu-begitu lebih baik saya tidak usah aja deh. Ya namanya juga berpolitik. Kalau untuk pencalonan DPD ini saya baru habis 400 juta (Rupiah). Untuk ongkos pergi ke daerah bersama teman-teman. Saya kan perginya tidak sendiri. Ada teman-teman pendukung yang menemani.

Masih seputar persiapan peluncuran buku Redifining Heritage. Ada rencana buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia agar mudah diakses. Judul dalam bahasa Indonesia “Memakna Ulang Pusaka Budaya”. Saat ini saya kan banyak waktu. Kalau dulu bekerja perlu waktu panjang, sekarang sudah tidak lagi. Apalagi waktu yang saya habiskan tidak sedikit, 30 tahun. Masak (saya) masih tetap membutuhkan waktu 12 jam untuk bekerja.

Dunia desain bagi saya adalah profesi karena hobi. Saat ini saya melakukannya di waktu-waktu sela. Kan tidak perlu waktu lama. Kalau ada waktu 12 jam saya hanya membutuhkan waktu enam jam untuk menyelesaikannya. Kalau teman-teman selesai bekerja waktunya digunakan untuk bermain golf, saya menggunakannya untuk bekerja. Sekarang kebalikannya.

Mengembangkan industri kecil. Pasca-gempa di Yogyakarta dan Klaten beberapa tahun lalu membuat industri kecil kain pertenunan di Klaten terpuruk. Saya sudah memulainya dengan membantu industri usaha ini agar bisa bergerak kembali. Yang kedua, saya ingin menerapkan program Grameen Bank. Di Indonesia program ini sangat dibutuhkan.

Saya sudah memulai di Jawa Barat yang teman-teman namakan “Kawan Cempaka”. Yang kami bantu kebanyakan perempuan semua. Di Subang hampir 2.000 perempuan yang sudah menerima pinjaman model Grameen Bank ini. Membantu orang kan tidak melihat daerah. Meski saya pencalonanya nanti di Jawa Tengah, saya melihat di daerah Subang banyak sekali masyarakat yang membutuhkan. Rencananya nanti akan diperluas. Industri usaha kecil di Klaten kan sudah mulai bergerak. Tinggal nanti kita lihat daerah lainnya lagi yang membutuhkan bantuan. Sebenarnya di Indonesia banyak banget SDM yang sudah memiliki skill bagus. Hanya pemberdayaannya saja yang belum maksimal.

Penting sekali. Nasib sebuah bangsa tidak akan baik jika mengabaikan kaum perempuan. Saat ini banyak kok perempuan Indonesia yang memiliki skill bagus. Tingkat pemahaman dan pendidikan terhadap politik juga tak kalah dengan laki-laki. Kalau ada kesempatan kenapa tidak diambil. Perempuan di Indonesia jika diberdayakan dan diberi kesempatan yang sama seperti laki-laki, (maka) saya yakin persoalan bangsa tidak akan (jadi) sepelik ini.

Kita perlu dukung kemauan dan upaya pemerintah untuk bangkit dari keterpurukan. Caranya, pendidikan politik terhadap kaum perempuan harus digalakkan. Pengelolaan usaha industri kecil ditingkatkan. Umpamanya begini, kalau ingin membuat hancur sebuah bangsa caranya gampang, timpangkan saja kaum perempuannya. Artinya, betapa pentingnya keterlibatan perempuan. Bangsa ini tidak akan pernah berhenti ditimpa masalah dan krisis jika para perempuannya tidak ikut terlibat menyelesaikannya. Sumber: Teras Politik

Page 1 of 2412345...1020...Last »