
Poppy Dharsono : Terjun Politik Panggilan Hati
Jakarta, Teraspolitik – Setelah mengenyam asam-garam dunia desain dan fashion yang telah membesarkan namanya, saat ini Poppy Dharsono mulai memasuiki dunia politik. Perempuan ayu usia baya yang awet muda ini tidak tanggung-tanggung memasuki panggung politik.
Salah satu pemrakarsa Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini sebelumnya ikut pencalonan pilkada kepala daerah Jawa Tengah melalui partai, meski akhirnya gagal di tingkat Komisi Pemilihan Umum. Tahun depan Poppy berencana mengikuti hajatan politik mencalonkan diri sebagai Dewan Perwakilan Daerah Jawa Tengah. Apa yang melatar belakangi Poppy terjun ke dunia politik?
Mungkin lebih karena panggilan hati. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang serius untuk membesarkan bangsanya. Memang political will dari pemerintah sudah ada, hanya saja masih ada hambatan. Soal skill dan sumber daya manusia. Di negara kita ini banyak politisi, tapi jarang yang benar-benar berbuat konkret untuk masyarakat. Semua mengatasnamakan rakyat, tapi ujung-ujungnya lebih mementingkan kepentingan pribadi.
Saya berniat membantu masyarakat lemah. Selain dengan perbuatan nyata, ada kebijakan yang lebih memihak kehidupan mereka. Khususnya pemberdayaan orang-orang lemah, membantu orang-orang yang secara ekonomi dan sosial belum terbantu. Misalkan saja usaha industri kecil. Saat ini belum banyak yang mengelola.
Saya ingin memberikan sumbangsih bagi bangsa ini. Membantu secara langsung. Sebenarnya apa yang saya lakukan saat ini adalah melanjutkan apa yang sudah saya lakukan kemarin-kemarin. Mendirikan usaha kecil untuk masyarakat yang memiliki skill dan (merupakan) sumber daya masyarakat yang bagus tapi, tidak ada yang mewadahinya. Mengembangkan usaha-usaha kecil. Kebetulan saya kan terlibat di Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia yang sudah melakukan pendampingan terhadap usaha-usaha industri kecil. Ada 150 orang anggota lebih yang melanjutkan program ini. Dan sudah berjalan dengan baik.
Untuk pencalonan pilkada tahun lalu saya habis banyak. Cost politic memang tidak sedikit. Kurang lebih saya habis satu miliar. Ini untuk cost politic lho, bukan money politic. Tidak ada pelican-pelicin. Yang begitu-begitu lebih baik saya tidak usah aja deh. Ya namanya juga berpolitik. Kalau untuk pencalonan DPD ini saya baru habis 400 juta (Rupiah). Untuk ongkos pergi ke daerah bersama teman-teman. Saya kan perginya tidak sendiri. Ada teman-teman pendukung yang menemani.
Masih seputar persiapan peluncuran buku Redifining Heritage. Ada rencana buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia agar mudah diakses. Judul dalam bahasa Indonesia “Memakna Ulang Pusaka Budaya”. Saat ini saya kan banyak waktu. Kalau dulu bekerja perlu waktu panjang, sekarang sudah tidak lagi. Apalagi waktu yang saya habiskan tidak sedikit, 30 tahun. Masak (saya) masih tetap membutuhkan waktu 12 jam untuk bekerja.
Dunia desain bagi saya adalah profesi karena hobi. Saat ini saya melakukannya di waktu-waktu sela. Kan tidak perlu waktu lama. Kalau ada waktu 12 jam saya hanya membutuhkan waktu enam jam untuk menyelesaikannya. Kalau teman-teman selesai bekerja waktunya digunakan untuk bermain golf, saya menggunakannya untuk bekerja. Sekarang kebalikannya.
Mengembangkan industri kecil. Pasca-gempa di Yogyakarta dan Klaten beberapa tahun lalu membuat industri kecil kain pertenunan di Klaten terpuruk. Saya sudah memulainya dengan membantu industri usaha ini agar bisa bergerak kembali. Yang kedua, saya ingin menerapkan program Grameen Bank. Di Indonesia program ini sangat dibutuhkan.
Saya sudah memulai di Jawa Barat yang teman-teman namakan “Kawan Cempaka”. Yang kami bantu kebanyakan perempuan semua. Di Subang hampir 2.000 perempuan yang sudah menerima pinjaman model Grameen Bank ini. Membantu orang kan tidak melihat daerah. Meski saya pencalonanya nanti di Jawa Tengah, saya melihat di daerah Subang banyak sekali masyarakat yang membutuhkan. Rencananya nanti akan diperluas. Industri usaha kecil di Klaten kan sudah mulai bergerak. Tinggal nanti kita lihat daerah lainnya lagi yang membutuhkan bantuan. Sebenarnya di Indonesia banyak banget SDM yang sudah memiliki skill bagus. Hanya pemberdayaannya saja yang belum maksimal.
Penting sekali. Nasib sebuah bangsa tidak akan baik jika mengabaikan kaum perempuan. Saat ini banyak kok perempuan Indonesia yang memiliki skill bagus. Tingkat pemahaman dan pendidikan terhadap politik juga tak kalah dengan laki-laki. Kalau ada kesempatan kenapa tidak diambil. Perempuan di Indonesia jika diberdayakan dan diberi kesempatan yang sama seperti laki-laki, (maka) saya yakin persoalan bangsa tidak akan (jadi) sepelik ini.
Kita perlu dukung kemauan dan upaya pemerintah untuk bangkit dari keterpurukan. Caranya, pendidikan politik terhadap kaum perempuan harus digalakkan. Pengelolaan usaha industri kecil ditingkatkan. Umpamanya begini, kalau ingin membuat hancur sebuah bangsa caranya gampang, timpangkan saja kaum perempuannya. Artinya, betapa pentingnya keterlibatan perempuan. Bangsa ini tidak akan pernah berhenti ditimpa masalah dan krisis jika para perempuannya tidak ikut terlibat menyelesaikannya. Sumber: Teras Politik